Skip to main content

FLASHBACK [ Part 2 ]

[Part2]


“Deuh, Ngel walaupun sekarang elu jauh lebih dewasa dan Kece tapi kenapa lu masih kaku dan salting gitu si di hadapan gue? Hehe..” ledek Yoga dalam hati.
“Kuliah dimana sekarang, Ngel?” Tanya Yoga singkat sambil tersenyum.
“Peliiis deh ini pertanyaan, emang dia gak liat bio gue di Facebook? Eitt, entar dulu tapi apa gue gak salah denger? Dia nanya ke gue…” gumam Angel dalam hati sambil melirik di sekitarnya.
“Hah? Huumm…” Angel.
“di Univ. Andhiga.” Jawaab Angel tersenyum sesingkat Yoga bertanya.
“Ooh, Andhiga? Ngambil jurusan apa?” Yoga.
“Jurusan Jurnalistik. Sekarang elu kerja ya?” Tanya Angel mencairkan suasana.
“Iya.” Yoga tersenyum sambil terus menatap Angel kagum.
“di Pangrango Steel ya? Wah, banyak duit donk sekarang? Disitu kan susah masuknya? (Aduh, kok kesannya gue matre yah? Bodo lah).” Tanya Angel nyerocos seperti biasa.
“Iya, Alhamdulillah hehe. Engga juga kok.” Yoga merendah.
“Iya, ngomong- ngomong elu pake koneksi yah?” Tanya Angel polos.
“Hah?! Engga, kok.” Jawab Yoga bingung.
“Iya, kan susah masuk sana. Mau juga deh.” Ceplos Angel tanpa basa- basi.

Inilah kelemahan Angel kalo udah nyaman ngomong sama lawan bicaranya ucapannya gak bisa di rem. Entar sampe rumah cerita ke adiknya terus nyesel karena udah bicara asal cerocos alhasil adiknya kebingungan dengan penyesalan kakaknya yang manja itu. Lalu berulang- ulang bertanya gimana bin? Gimana donk bin? Sampai Bintang bosan.
“Elu berapa tahun kuliah? S1 ya?” Tanya Yoga berentet.
“Hmm… Iya, S1 4 Tahun (Ngapain Yoga nanya segala gue lulus berapa tahun? Apa dia ada niat mau ngelamar gue? Haduh, mulai gila deh gue!)” Jawab Angel tersenyum.
“Berarti 2 tahun lagi yah? Lulus?” Yoga.
“(Tuh kan, bener) Bukan, 3 Tahun lagi sekarang kan baru mau tingkat 2. Dulu nunda setahun.”Jelas Angel.
“Oya, yang lu nganggur setahun. Mau kerja gak jadi jadi, haha” tebak Yoga.
“Hehe, Iya gue mau kerja tapi gak jadi.” Angel nyengir.
“Bukan gak jadi. Lu disuruh kerja sama gue gak mau.” Ledek Yoga.
“ah, bukan gitu. Abis jauh kan waktu itu udah gitu gue gak boleh sama ortu takut gak inget kuliah.” Bela Angel.

Tiba- tiba suasana membeku lagi bak di kutub utara, angin berhembus menusuk tulang. Angel bingung mesti cerita apalagi. Yoga pun sama. Akhirnya Sisil menyelamatkannya dari suasana dingin ini. Sisil berteriak menagih siapa yang belum membayar bill makan tadi. Berlalulah ia pergi dengan perasaan berat hati. Angel masih ingin berbicara banyak tapi apadaya. Yoga terus memainkan Iphone di tangannya.
“Abis ini kita mau kemana lagi nih??” Tanya Angel antusias.
“Emang maunya kemana?” ucap Annisa balik bertanya.
“Hmm, kemana kek yang seru!” sambung Angel sumringah.
“Ya udah, yuk cuss!” ajak
“ih, kemana lagi emang?” Tanya Dian.
“Ya udah ikutin aja!” ucap Annisa

Pada saat itu Felis diboncengi Fandy, Dian diboncengi Andi, Nayla diboncengi Sisil, Zeina diboncengi  Annisa, Angel diboncengi Tya dan Yoga  sendirian. Wuah, ternyata benar kata Sisil si Yoga gak boncengin siapa- siapa. Yoga menatap Angel penuh harapan yaitu berharap agar Angel memintanya memboncengnya. Namun, sayang Angel berlalu begitu saja menaiki motor Tya. Karena ia tidak ada keberanian untuk melakukannya.
“ih, mau deh diboncengin Yogaaa… huhu” rengek Angel di dalam hatinya.

Padahal  Angel telah lama menunggu agar bisa diboncengi oleh motor Ninja putihnya si Yoga dari ia duduk dibangku SMA. Namun impian itu tak pernah terwujud sampai mereka lulus sekolah. Angel hanya bisa berharap jika ia pulang nanti maka ia akan diantar oleh Yoga.
Semuanya siap menggas motornya masing- masing. Mereka semua berjalan terus mengelilingi kota Jakarta yang sangat indah jika malam hari. Hehe… Angel merasa senang sekali bisa jalan- jalan di malam hari. Maklum saja ia sangat jarang mengendarai ataupun dikendarai menggunakan motor apalagi di malam hari. Sama teman pula, jangan ditanya deh. Angel itu kan anak mami yang hari- harinya menggunakan mobil pribadinya. Lalu mereka jalan terus sampai bundaran HI. Hingga akhirnya mereka berhenti di suatu Coffee Café sekaligus tempat karaoke.
“Waah, jadi kita mau karaokean nih?  Asiik…” teriak Angel kegirangan.
“Yah, gue ga bisa nyanyi tauu.” Keluh Dian cemberut.
“Yaelah, buat seru- seruan aja kali. Gue juga kok.” Sambar Annisa membujuk
“Iya nih, Let’s have a fun guys” senyum Sisil.
“Ayo, ayo masuk donk. Nanti kemaleman.” Ajak Zeina.
“Eh, entar dulu. Foto dulu donk di depannya.” Pinta Yoga sambil tersenyum kearah Angel.
“haha… dasar, Ya udah. Sini gue fotoin.” Ucap Nayla.

Selesai berfoto bergegaslah mereka mendaftar untuk berkaraoke ria di medium room. Sesampainya di dalam ruangan masing- masing mencari posisinya yang nyaman. Lagu awal dimulai dengan dangdut kesukaan siapa lagi kalau bukan si Sisil. Sebenarnya Angel tidak suka dangdut namun saat Aitu juga ia lupakan segalanya demi bersenang- senang dengan temannya. Angel dan lainnya terhanyut dengan suara cangkok Sisil dan berjoget ala yang booming sekarang. sambil menirukan gaya yang khas jaman sekarang tertawa riang gembira. Dilanjut lagi dengan lagu mellow yaitu Seluruh nafas ini miliknya Last Child ft Giselle. Angel mengambil part ini untuk bernyanyi dan tanpa diduga- duga Yoga juga mengambil mic untuk duet bersama Angel.
“Gue donk yang nyanyi part cowoknya.” Pinta Yoga tersenyum kearah Angel penuh arti.
“ha? Ya udah. Ayo aja. Hehe…” jawab Angel terbata- bata salting.

Pada akhirnya mereka berdua bernyanyi dengan penuh nuansa romantis dan mesra. Entah hanya bersandiwara saja Yoga bernyanyi sambil terus tersenyum ke arah Angel layaknya artis duo sesungguhnya lalu Angel juga membalas senyuman itu hingga di ujung lagu langsung disambut dengan tepukan tangan yang meriah oleh teman- temannya. Lalu setelah itu disambung lagi dengan Zeina yang menyanyikan lagu Korea dengan fasihnya diiringi oleh Annisa, Nayla yang mengikuti gerakan koreografi lagu Korea tersebut. Lalu, Yoga dan Fandy menyanyikan lagu barat bergenre Rock dengan gayanya yang khas ketika ngeband. Terakhir Angel bernyanyi lagu Korea berjudul “Genie” sambil sesekali mengikuti dance tersebut lalu disusul Annisa, Zeina, Nayla, Felis, Dian, Tya dan Sisil hingga seperti flashmob. Lalu diam- diam Yoga mengambil video ketika Angel bernyayi sambil ngdance jadi hanya menshoot ke arah Angel dan Fandy mengambil video mereka semua sampai selesai.
“Yah, udah jam berapa nih?” Tanya Angel sambil menyeruput Vanilla late hangatnya.
“Baru jam setengah 9, ngel” celetuk Annisa.
“Yah, masih ada kendaraan umum ga nih, nis?”Tanya Angel panik.
“Masih kok, ngel” sambar Zeina.
“Eh, tapi kendaraan umum ke arah rumah lo jarang loh!” sambung Dian.
“Nah, tuh kan.” Ucap Angel murung ke arah Annisa.
“Iya, woles ngel. Sebentar lagi nih udah. Abis kita nenangin perut dulu nih.” Bujuk Annisa.
“Hmmm, Iya deh. Sip”

Di dalam hati Angel bingung mesti bagaimana. Memang kenyataannya kendaraan umum untuk ke arah rumahnya jarang. Dia berpikir untuk meminta Tya mengantarnya pulang paling tidak sampe berpapasan dengan kendaraan umum  tersebut. Namun, ia mengurungkan niatnya karena merasa tidak enak. Tiba- tiba saja terlintas di benaknya untuk meminta tolong Yoga untuk mengantarnya tapi ia merasa gengsi kalo ia yang meminta. Angel ingin Yogalah yang mengajaknya kan dia cowok. Angel sesekali melihat ke arah Yoga dengan wajah penuh harap. Sampai akhirnya mereka ke luar dari Coffee café tersebut Angel masih bingung mesti pulang naik apa. Akhirnya ia memberanikan diri bilang ke Tya.
“Tya, anterin gue donk sampe gang rumah aja. Takut gak ada angkot nih.” Pinta Angel cengengesan.
“Ih, males ah. (tertawa kecil)” jawab Tya datar dengan wajah yang sangat tidak enak dilihat.
“Yaelah, Tya gitu amat sama temen.” Sambar Annisa yang bersiap untuk mengantar Zeina sampe gang rumahnya yang memang tidak sejauh  Angel.
“hehe, emang lu dibayar berapa ha?” Tanya Tya asal.
“Yee, gue mah ikhlas, ya (haha)”
Ketika akhirnya Zeina telah diboncengi Annisa, Dian diboncengi Andi, Nayla diboncengi Sisil, Felis diboncengi Fandy. Angel hanya terdiam karena ternyata memang ia takkan pernah diajak Yoga untuk mengantarnya pulang. Tapi tiba- tiba saja.
“Sssst, sssst. Ngel. (kedip)” panggil Felis dengan isyarat wajah yang menunjukkan bahwa Angel disuruh untuk naik motor Yoga.
“ha? Engga ah (wajah bingung)” jawab Angel tidak suka dengan perintah Felis tersebut.
“Yog, tuh si Angel anterin!(Senyum)” pinta Felis dengan wajah menggoda.
“ha? (senyum) (langsung menatap wajah Angel)” jawab Yoga langsung ke arah Angel dengan isyarat melambai- lambai dan menunjuk ke arah Tya.
“(bingung) apasih maksudnya” ucap Angel dalam hati sambil mengangguk bingung.
“Ye, si Yoga cepetan! Kasian tuh. lu, sama cewek juga. Masa pulang malem- malem sendiri.” Cerocos Fandy sang pahlwan Angel pada malam itu.
“Angel, mau dianterin?” Tanya Yoga sedikit terbata.
“Iya, dong! Tapi anterin sampe gang rumah, hehe” jawab Angel cengengesan tapi pasti dengan wajah takut kalo- kalo Yoga menolaknya.
“Waduh, kok gue frontal banget yah? Huh” sesalnya dalam hati.
“Ya udah, yuk!” ajak Yoga ramah.
“Yuk” jawabnya sambil langsung duduk di jok belakang motor Ninja Yoga yang lumayan tinggi seakan ia takut moment yang sudah lama ia nantikan hilang. Tapi di satu sisi ia jug merasa malu karena sudah ceplas- ceplos tadi.
“Ya, tuhan! Akhirnya gue diboncengin sama Yoga ya walaupun bukan ajakkan langsung darinya, sih.” Ucapnya tak menyangka dalam hati.
“Duluan ya, ya.” Ucap Angel tersenyum.
“Yoo.” Jawab Tya datar.

“kenapa si Tya bête gitu ya mukannya? Apa salah gue? Bukannya tadi dia baik- baik aja ngbrol sama gue waktu gue boncengan sama dia. Malah ketawa- ketawa. Hmmm” ucapnya dalam hati sambil berpikir- pikir.
“waduh! Apa jangan- jangan dia tahu kalo dulu gue suka sama Yoga. Dia marah karena gue gak pernah cerita sama dia dan dulu malah suka ngeledekkin Tya sama Yoga. Apa iya apa karena masalah itu? Bisa jadi sih. Soalnya dari tadi gue liat ada yang aneh sama temen- temen gue. Pertama, Sisil ngasih isyarat kalo Yoga sendiri bawa motor di café buing- buing tadi. Kedua,  Annisa seringkali tersenyum meledek ke arah gue entah apa itu maksudnya. Ketiga, Nayla dan Felis manas- manasin gue pas Yoga dan Tya berbincang- bincang di parkiran. Terakhir, Felis dan Fandy meminta Yoga mengantar gue?. Duh, duh pusing deh. Jujur aja gue udah ngerasa basi akan cinta yang telah sia- sia dulu. Tapi kenapa keadaan dan temen- temen seakan ingin menyatukan gue dengan Yoga lagi. Hello! Ini cerita lama” lamun Angel sambil ngomel- ngomel dalam hati.
“Ngel, Ngel. ANGEL!” ucap Yoga.
“Hah? Iya apa?” jawabnya kaget.
“Lo tidur apa? Hehe” ledek Yoga.
“ih, enggaklah (manja)” jawabnya malu.
“Oh, kirain.”
“Eh, ngomong- ngomong gak apa- apa nih gue minta anterin elu?” Tanya Angel masih merasa segan.
“Gak apa- apa, kok.”
“Besok kerja, Yog?” Tanya Angel.
“Engga, libur dong!”
“Ooh, enak dong! Kirain masuk, soalnya si Tya aja besok masuk. (duh, kenapa segala gue bawa- bawa nama Tya)” ucapnya.
“Hmm, iyalah dia kan kerja rodi, hehe” jawab Yoga sekenannya.
“haha, parah lu.”
            
Tiba- tiba suasana membeku kembali setelah keduanya kehabisan bahan obrolan. Angel merasa bête karena hanya ia yang terus- terusan bertanya dan membuka pembicaraan.
“Eh, elu di FB statusnya galauuuuu terus, haha” celetuk Angel mencairkan suasanya.
“hehe, gak apa- apa. Iseng aja.”
“Oh”
“Oya, belok kanan kan?” Tanya Yoga.
“Iyah (mengangguk), masih inget gak gang rumah gue? Hehe” Tanya Angel menggoda.
“Masih kok, cuman masih bingung- bingung dikitlah. Takut salah. Hehe” jawab Yoga seakan takut Angel kecewa kalo ia lupa jalan rumahnya.
“Hmmm”
Lalu, keduanya terdiam kembali tak terasa udara semakin dingin sekali setelah hujan. Angel menggigil dan sesekali menggosok kedua telapak tangannya agar terasa hangat.
“Aduh, dingin banget ini. Sial, gue gak bawa jaket lagi. Coba aja ya, si Yoga ngasih jaketnya buat gue. Kayak di film- film gitu, haha (tersenyum).” Ucapnya dalam hati.
Setelah menggerutu di dalam hati, tiba- tiba saja kecepatan motor Yoga berkurang. Entah, dia melihat ekspresi Angel yang kedinginan melalui spion atau memang ia ingin mengurangi kecepatan saja.
“Ih, kok dia pelan gini bawa motor? Apa dia gak mau gue kedinginan yah? Kekeke (mulai pede).” Khayal Angel.
“Gangnya sebelah mana, ngel?”
“Hah? Nanti masih jauh.”
“Oh.”
Beberapa menit kemudian.
“Gapura itu yah, Ngel?” tanyanya lagi
“Bukan, bukan nanti bentar lagi. Lupa yaa? Hehe”
“hehe, Iya kalo gangnya lupa- lupa inget.”
Setelah beberapa jalan dilewati akhirnya mereka berdua sampai di Gang rumah Angel.
“Oh, iya ini yang deket Universitas itu ya?”
“Iya, yang dulu lu pernah ngeband.”
“Jadi, inget waktu lo ulang tahun itu.” Ucap Yoga
“hehe, Iya”
“Ngomong- ngomong lu ga pengen kuliah, Yog? Tanya Angel penasaran.
“Hmm, pengen sih. Nanti kali, hehe”
“udah enak kerja ya? Dapet penghasilan sendiri?”
“Ya, gitu deh. Mau nabung dulu.”
“Oh, mau nabung dulu baru entar uangnya buat kuliah ya? Wah, hebat” puji Angel sambil bertepuk tangan seperti anak kecil.
Tak lama berbicara, Angel dan Yoga sampai di depan Rumah Angel.
“Nah, ni dia. Mau mampir dulu ga sebentar?” Tanya Angel sedikit terbata karena kedinginan dan juga bercampur deg-degan.
“Hah? Enggak, deh. Hehe”
“Oh, Ya udah makasih yaa (Tersenyum).” Ucap Angel.
“ (Senyum mengangguk).” Yoga
“Bener nih gak mau mampir dulu? Lumayan tadi perjalanannya jauh, hehe” Tanya Angel lagi.
“Gak, deh. Gak apa- apa udah malem (member isyarat tangan).” Jawabnya cengengesan seperti SMA dulu.
“Oh, Iya deh, makasih banyak yaa.”
“Iyap (senyum).”
“Tiin (menganggukkan kepala ke arah Mami Angel)” klakson Yoga sambil mengangguk ke arah Mami Angel.
“(Tersenyum).” Mami
Seperginya Yoga, Angel habis di ledekki oleh Mami dan Bintang adiknya. Mereka berdua serentak berteriak menggoda ke arah Angel.
“Ciyeeee,  uhuyyy!Wuuh, hahaha…” ledek Mami dan Bintang.
“Ih, apasih?”
“Hum, seneng tuh.”
“hehe iyasih, tapi biasa aja.”

Angel langsung bergegas ke kamar untuk berganti baju. Ia tersenyum senang sambil membayangkan kejadian tadi. Akhirnya Angel untuk pertama kalinya diantar pulang oleh Yoga gebetannya dulu. Walaupun keinginan itu sudah lama sekali yaitu 3 tahun yang lalu ketika ia duduk dibangku kelas 2 SMA. Entah mengapa Angel hanya merasa senang dan bangga saja setelah diantar oleh Yoga. Seandainya saja ia diantar ketika kelas 2 SMA mungkin rasanya tidak segaring ini. Yap, ia sadar cintanya yang dulu hanyalah masa lalu yang tak mungkin ia harapkan lagi untuk saat ini. Angel mungkin sudah bosan dengan kode- kode palsu yang telah ia dapatkan di SMA dulu. Jadi, walaupun kejadian tadi sangat menyenangkan hatinya. Ia hanya menganggap hiburan semata saja yang tidak ia masukkan ke dalam hati. Ia takut akan terjatuh lagi kesekian kalinya.

Comments

Popular posts from this blog

PERJALANAN INI

Perjalanan ini..             Perjalanan ini sampai kapan? Sampai kapan? Aku lelah terus berjalan Aku tak kuat lagi tuk terus berjalan yang tak pernah ku tahu ujungnya Perjalanan ini..             Bolehkah aku menyudahinya? Aku sungguh ingin namun ternyata sulit Sulit sekali..                                Sangat..                                                   Sampai dada ini sesak created by: vitaloka

TRAVEL TO DUFAN ANCOL

Hi Everyone! Bertemu lagi di cerita perjalananku yang keempat Kali ini aku ingin berbagi cerita dan pengalamanku bersama ibu dan adik-adikku  mengenai liburan ke Dufan Ancol Happy Reading ^_^ Pada waktu libur Lebaran Idul fitri 2 tahun yang lalu aku dan keluarga pergi berlibur ke Dufan Ancol. Dufan merupakan Wahana permainan yang menguji adrenalin dengan banyak pilihan permainannya yang ekstrim. Dufan ini tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan dalam negeri saja dari luar negeri pun banyak. Dan kalian perlu tahu sepengetahuan saya Dufan Ancol adalah Wahana permainan yang terbesar di Asia Tenggara. Tentu kita sebagai orang Indonesia patut berbangga hati. Baik, lanjut lagi ceritaku selanjutnya pada waktu itu kami berangkat sekitar pukul 10.00 wib menggunakan transportasi Kereta Commuter Line Bojong Gede-Jakarta(Kota). Ya, seharusnya kami berangkat lebih pagi lagi agar lebih lama dan puas bermain disana. Namun karena tidak ada persiapan sebelumnya jadilah kami berangkat agak ...

Naskah Drama

Permainan Cinta Randy                         : Surprise!!!!!!! Happy 4 th Anniversarry kita, sayang! (membuka penutup mata pada kepala Mia) Mia                              : Ya Ampun, Yang. Ini semuanya kamu yang nyiapin? (terkejut senang) Di sebuah taman kecil. Terdapat pepohonan yang dibaluti lampu- lampu kecil bercahaya indah di malam hari. Di tengah- tengahnya terdapat meja bundar kecil dengan dua buah kursi berwarna putih. Di atas meja sudah tersedia makanan- makanan lezat beserta buah dan jus segar. Di rerumputan terdapat tulisan indah “FOREVER LOVE YOU” berwarna merah muda. Randy            : Iya, dong. Sama bantuan temen aku sih. Kamu suka ga? (sambil mempersila...