Skip to main content

ASHA's STORY - PENELEPON MISTERIUS


Hallo…

Kenalin namaku Asha. Selepas lulus SD aku di asramakan oleh bunda di salah satu sekolah islam terpadu di Sukabumi. Pada awalnya aku tidak ingin sekolah jauh dari orangtua terlebih mesti di asrama. Haduh, gak kebayang deh gimana peraturan disana yang pastinya sangat disiplin. Namun, di satu sisi suatu keberuntungan dari aku karena aku bisa bebas dari omelan bundaku yang galak. Hehe… ya, meskipun semua itu sebenarnya berdasarkan rasa sayangnya kepadaku. Pada akhirnya aku menerima masukan bundaku yang ingin mengasramakanku.

“Aduh, sepertinya aku gak betah deh disini. Kenapa mereka semua sombong ya? Apa karena mereka anak orang kaya yang setiap dikunjungi orangtua membawa mobil- mobil mewah.” Keluh Asha yang baru sebulan tinggal di asrama.
“Asha, udah makan belum?” Tanya salah satu kakak pembimbing di kamar tersebut.
“hah? Iya, ukhti (kakak kelas) nanti. Hehe”
“Jangan nanti- nanti. Nanti sakit lho!” nasehat kakak.
“Iya, ukhti. Tenang.”

Jadi, begini toh yang namanya tinggal di asrama. Makanan apa itu? hanya tahu yang berkuah kecap cair tidak kental ditambah nasi. Pantesan aja harganya terjangkau. Tapi aku sebel deh kata bunda dulu waktu beliau di asrama  hanya beberapa bulan saja karena sakit. Bunda bilang makanan disana enak- enak. Kamarnya saja luas yang terdiri dari masing- masing lemari dan tempat tidur. Apa beda daerah beda asrama ya? Huh, yang jelas aku kesal sekali. Lalu, bagaimana bisa teman- teman yang bermobil mewah mau sekolah disini. Yap, itu karena sekolah ini telah lama terkenal akan lulusannya yang sukses masuk universitas negeri maupun luar negeri dan juga menghasilkan guru maupun dosen yang mampu bersaing dari sekolah- sekolah negeri favorit pada umumnya. Jadi, tidak heran orangtua yang berduit ingin memasukkan anak- anaknya bersekolah disini.
 “Hai, sendiri aja?” Tanya salah seorang perempuan berjilbab putih pita biru yang sedang menalikan sepatunya.
“Eh, iya nih. Hehe” jawabku simpel yang entah mengapa semenjak aku di asramakan di sekolah ini. Sifatku mendadak menjadi seorang yang sangat pendiam. Padahal dulu ketika SD aku anak yang aktif, sedikit nakal, dan ceria. Namun dengan banyaknya aturan- aturan dengan sangsi yang menyeramkan hingga aku merasa takut untuk melakukan segala sesuatu di sekolah ini. Terlebih wajibnya menggunakan bahasa Inggris dan Arab di dalam ruang linkup asrama yang jika dilanggar banyak sangsi menunggu sang pelanggar.
“Emang di kelas mana?” ucapnya sambil mengikat tali sepatu satunya lagi.
“Aku dapet kelas 1A. dimana ya kelasnya? Kemarin aku gak sempet untuk ngecek.” Ucapku memakai kaos kaki bergambar Rillakuma pink.
“Oh, sama donk! Ya udah yuk bareng aja.” Ajaknya ramah.
“Ayuk.” Jawabku riang sembari memasukkan kedua kakiku pada flat shoes kesayanganku.
“Kamu tinggal dimana?” tanyaku membuka pembicaraan seraya terus berjalan menuju lantai atas.
“Aku di Bekasi. Kamu?” jawabnya bangga.
“Oh, Yah beda. Aku di Tangerang. Hehe…”
“Oh, iya sampai lupa. Nama kamu siapa?” tanyaku tertawa kecil.
“hehe iya, Lala.” Jawabnya sembari mengangkat tangannya.
“Asha.” Balasku.

Sesampainya di kelas aku duduk sebangku dengan Lala. Ya, lumayanlah aku udah ada teman dekat yang sekelas. Baik juga ko kayaknya, sederhana, nyambung juga kalau cerita. Berbicara mengenai kelas bangunannya tidak jauh berbeda dengan gedung kamar yaitu mirip seperti bangunan- bangunan Belanda yang semuanya serba besar.seperti contoh pintu pada kelas ini.

>>>>>>>>>> 

Google image

Jum’at pagi yang cerah. Jum’at ialah dimana murid di sekolah ini libur sekolah. Setelah melakukan kegiatan conversation  B.Arab, lalu dilanjut dengan senam bersama seluruh siswi. Namun, seperti biasa aku tidak ikut senam karena aku mengikuti kegiatan lain yaitu Taekwondo. Ini sudah kesekian kalinya aku ikut latihan. Jum’at kali ini juga hari yang menyenangkan bagiku karena jadwalnya aku dikunjungi oleh bunda dan ayah serta adik kecilku. Satu hal yang membuat aku bingung hari ini juga ada jadwal ujian Taekwondo di suatu tempat yang asri yang agak jauh dari Asrama. Hari ini benar- benar isi dompetku sudah sangat tipis. Ternyata di awal- awal persekolahan banyak sekali pengeluaran yang tak diduga. Sehingga membuatku sulit untuk menelpon bunda untuk memastikan kembali agar tidak perlu datang terlalu pagi dan tidak perlu menelpon ke kantor.
Tiga jam berlalu.
“Eh, ayah bunda udah dateng?” sapaku sambil mencium punggung tangan bundaku lalu ayahku.
“Hey, Haris. Lucu banget sih.” Sapaku sembari mencubit pipinya yang chubby.
“dari tadi ya bunda? Maaf, ya bun. Tadi aku ada ujian Taekwondo dulu.”
“Oh, tadi kamu ujian.” Jelas bunda lagi.
“ngomong- ngomong Asha kena berapa tadi nelpon?” Tanya ayah santai.
“hah? Nelpon.. kapan yah?” jawabku bingung.
“tadi. Tadi pagi ko, masa lupa?” bela ayah lagi meyakinkan.
“Ya ampun, ayah. Aku aja gak ada uang untuk jajan apalagi nelpon.” Jelasku.
“hah? Yang bener, sha?” Tanya ayah mulai bingung bercampur merinding.
“Engga, yah. Kepikiran sih mau nelpon, tapi utang Asha aja udah banyak. Gak jadi deh.”
“tuh kan, ayah. Lagian kan dia lagi ujian tadi pagi.” Sambung bunda yang sedari tadi menyimak percakapan ayah dan aku.
“Emang nelponnya kayak gimana, yah?” tanyaku penasaran.
“Nelponnya persis banget kayak kamu ngomong biasanya.” Jelas ayah tersenyum bingung.
“gini nih.”
A: Hallo, Assalamualaikum. Ini ayah ya? Ayah apa kabar?
B: Hallo, Waalaikumsalam. Iya, sha. Loh, katanya kamu mau Twaekondo?
A: hah? Engga, engga apa- apa. Bunda, mana yah?
B: ada tuh lagi masa ayam kesukaanmu. Mau ngomong sama bunda?
A: Oh, engga deh yah. Hehe Ya udah, yah. Assalamualaikum.
B: Oh, ya udah. Nanti juga mau ketemu ya. Walaikumsalam.
“Ya ampun. Itu gak salah sambung, yah?” Tanyaku lagi yang tak percaya ada seorang yang berlagak sepertiku yang entah siapa penelepon tersebut.
“Gak tau ayah juga bingung. Kalo salah sambung gak mungkinlah. Masa gaya sama omongannya sama banget kayak kamu. Kamu emang minta jangan datang terlalu pagi kan? Soalnya mau ada ujian.” Jelas Ayah lagi.
“Ko aneh tuh,sha? Bunda jadi, merinding nih” ucap bunda tertawa kecil.
“Ih, Asha juga bingung. Itu siapa ya bun? Malaikat, hehe” tebakku asal sambil tertawa kecil.
“Mungkin aja. Ada malaikat yang nolongin kamu karena kamu mau nelpon tapi gak ada uang.” Senyum bunda menenangkan.
“Iya yah,  bun. Soalnya dari kemaren tuh pas sore lagi nemenin temen ke kantin beli lauk. Aku nunggu kan di bangku sambil liat ke arah Wartel tuh di sampingnya. Mikir aja pengen nelpon, pengen nelpon. Tapi udah gak ada duit lagi.terus, pas malem tuh mau ada kegiatan pidato kan temen aku mau beli permen dulu, aku temenin aku liat lagi Wartelnya udah tutup sih gelap gitu. Aku mikir ih coba aku bisa masuk diem- diem. Sebentar aja aku mau nelpon bunda nih. Hehe aku menghayal gitu. Eh, ternyata ada nelpon ya?” jelasku berapi- api.
“Oh, iya tuh sha. Kayaknya  kamu dibantuin jin baik tuh.”
“Waduh, serem banget bun.”
“Iya juga sih, tapi untungnya kan dia baik nelponnya.”
“Udahlah, mungkin emang Asha lagi ditolong aja kali.” Sambung Ayah.
“Ya udah, sha. Makan dulu nih ada Ayam bumbu kesukaan kamu.” Pinta Bunda.
Seselesainya kami makan ayah bergegas ke masjid untuk melaksanakan sholat jum’at. Lalu aku, Haris dan Bunda kita ke dalam kamarku untuk beristirahat sambil bermanja- manjaan melepas rasa rinduku selama sebulan.
“Oya, gimana? temen- temenmu masih suka ada yang nyebelin?” Tanya bunda.
“Ya gitu deh, bun. Aku suka main sama Lala terus kalau lagi gak sama dia. Aku main aja deh ke kamar bu Sarah. Curhat, bercanda, belajar atau gak nyetor hafalan yang belum selesai..” Jelasku bersemangat.
“Oh, gitu. Ya gak apa- apa lagi. Kamu malah deket sama guru- guru kan bagus tuh. Biar cepet pinter, hehe…” timpal Bunda menghiburku.
“Iyah,hehe. Temenku aja sampe iri pengen kayak aku.” Ucapku.

>>>>>>>>>> 

Malam hari ketika aku ingin tidur. Seperti biasa aku tidak langsung tidur melainkan mempelajari pelajaran yang perlu untuk dihafal. Sekolah disini banyak sekali materi yang harus dihafal. Kalau memang ingin mendapat hasil yang sempurna. Tiba- tiba, ketika aku mengahafal sekitar jam 11 tepat. aku mendengar suara aneh seperti suara terompet pada zaman dahulu. Itu jelas sekali di telingaku. Namun, saat itu aku menganggap itu hal biasa saja. Justru aku berpikir bahwa itu adalah orang kampung yang sedang ada acara. Tapi bingung juga sih, baru denger aja gitu orang kampung disini suka nyalain terompet. Acara apa ya?
“Prop, propeet propeeeet…..” suara itu terdengar lagi.

Namun, aku terus saja mengahafal hingga akhirnya aku selesai mengahafal semua materi dan terlelap tidur.

Keesokan paginya aku langsung bercerita kepada Lala mengenai penelepon misterius itu. Namun, ia tak percaya dengan apa yang telah aku ceritakan. Aku berusaha meyakinkan dan mengatakan kalau untuk pembuktiannya silahkan saja Tanya ayah dan bundaku. Akhirnya ia percaya walaupun sedikit bingung.
“ih, serem deh sha? Ko bisa sih.” Tanya Lala antusias.
“nah, aku juga bingung.” Jawabku menggeleng.
“Ya udahlah. Coba kamu Tanya aja bu Guru mungkin dia tahu apa itu.”
“Iya, deh.”

Setelah bercerita dengan Lala, aku langsung melesat ke lantai atas kamar tempat bu Guru Sarah.
“ah, masa sih sha?” Tanya bu Sarah yang sedari tadi mendengar cerita Asha yang berapi- api.
“iya, bu. Masa aku bohong?”
“Ya, maksud ibu bukan gitu. Tapi apa ayah kamu gak salah? Atau ada nomor yang nyasar.” Tanya bu Sarah lagi.
“Engga bu. Kata ayah suaranya dan gaya bicaranya sama banget kayak aku kalo lagi nelpon.”
“Astagfirullah, sha. Ibu jadi merinding. Sepengetahuan ibu sih itu qorin kamu yang nelpon. Mungkin dia mau bantuin kamu.” Jawab bu Sarah lugas.
“Qorin? Apa itu bu?
“Qorin itu ya diri kita sendiri yang gak nampak. Qorin itu ada dua yaitu yang baik dan yang jahat, tapi sepengetahuan ibu qorin itu baru muncul kalo kita udah meninggal. Makanya suka ada kan orang yang baru meninggal. Terus tiba- tiba tetangga atau kerabatnya melihat dia di suatu tempat. Itu bukan hantu atau arwahnya gentayangan tapi itu qorin dia yang saatnya harus muncul. Begitu, sha.” Jelas bu Sarah panjang lebar.
“Oh, gitu bu. Lah, terus ko aku qorinnya udah keluar aja? Kan aku masih hidup?”
“nah, itu dia sha. Ibu juga bingung.”
“Hmm, terus aku mesti gimana donk bu?”
“Ya, kamu tenang aja. Gak apa- apa ko.”
“tapi aku takut, bu?” ucapku panik.
“udah, kamu jangan panik gitu. Semuanya akan baik- baik saja.” Ucap bu Sarah tersenyum.

Sesampainya di kamar aku hanya bisa melamun dan berpikir ulang. Aku tak menyangka apa yang sudah bu Sarah jelaskan padaku. Ternyata itu qorin aku toh. Bagus sih udah nolongin, tapi kalo sewaktu- waktu dia iseng dan merugikan aku gimana? aduh, pusing.
“Oya, aku udah lama minjem buku Biologi si Nayla (adik kelas). Sekarang dia udah pindah lagi ke kamar tahfidz ke atas dulu deh. Hmm” ucapku dalam hati yang tiba- tiba teringat untuk mengembalikan buku adik kelas sembari mencari buku yang di maksud.

Aduh, mana bukunya ya? Aku berusaha terus meneliti satu persatu buku yang ada di rak hingga berkali- kali. Tapi hasilnya nihil, tak ada buku Biologi  kelas I bersampul merah itu. Aduh, bagaimana ini? Aku gak enak banget udah ngilangin buku orang. mana aku udah minjem lama lagi. Pasti dia kesel deh. Tanpa basa- basi aku langsung melesat ke lantai atas kamar si Nayla. Aku gak mau dia kecewa. Aku pasti akan ganti buku itu.
“Tok..tok..tok..”
“(Cekrek) ada apa ya?” Tanya salah seorang teman sekaligus kakak kelas yang sekamar dengan Nayla.
“ada Naylanya, ukhti (kakak kelas)?” tanyaku menggunakan bahasa Arab.
“Oh, tunggu dulu ya. Naylaaa, ada yang nyari nih.” Teriaknya sambil berpamit padaku untuk kembali ke dalam.
“Syukron (terima kasih), ukhti.” Ucapku tersenyum.
“afwan (sama-sama).”
“Eh, ukhti Asha. Ada apa ya?” Tanya Nayla tersenyum ramah.
“Hmm, jadi gini.” Ucapku menghela nafas.
“Buku kamu itu hilang. pas aku mau ngembaliin tiba- tiba aja bukunya gak ada. Aku juga bingung. Maaf banget ya, tapi tenang pasti aku ganti ko. Tapi gak sekarang.” Jelasku sangat menyesal.
“bentar dulu deh (bingung), ukhti. Buku apa ya?” tanyanya bermimik bingung.
“Buku biologi yang waktu itu aku pinjem.” Ucapku lagi.
“Biologi. Kan udah ukhti balikin kemarin.” Ucapnya tersenyum meledek seolah aku lupa.
“hah? Apa? Balikin kapan? Siapa yang balikin?” ucapku balik bertanya.
“Ya, ukhti sendiri. Ukhti, bilang ini ya Nay bukunya. Makasih banyak ya. Begitu.” Ucapnya santai.
“Masya Allah, engga. Aku belum kembaliin ko. Aku yakin.” Ucapnya kaget.
“Hah, yang bener ukhti?” tanyanya mulai panik.
“coba lihat mana bukunya?” perintahku penasaran.
“bentar ya, ukhti.” Ucapnya berlalu ke dalam. Beberapa detik kemudian.
“nih, ukhti.” Ucapnya sembari menunjukkan bukunya.
“Oh, iya ini dia bukunya. Yah?” ucapku senang langsung memegang buku ini dan memeriksa kesuluruhan buku tersebut. Ternyata memang benar itu buku yang aku sudah pinjam. Dan telah dikembalikan tanpa aku yang mengantarnya.
“Iya. Udah kan. Ukhti, lupa kali?” ucapnya lagi.
“Ya ampun, aku aja kemarin pagi ujian Taekwondo terus dikunjungin seharian sama ayah dan bunda. Sama sekali belum merasa balikin ke kamu. Karena aku gak sempet terus mau balikinnya.” Jelasku lagi.
“Hmm, aneh ya? Ya udahlah ukhti yang penting bukunya udah balik.” Ucapnya tersenyum.
“Iya, deh. Oya, tadi aku nazar kalo bukunya sampe ketemu. Aku bakal traktir kamu bakso besar. Kapan kamu ada waktu nih? Hehe” tanyaku melupakan sejenak kejadian aneh tadi.
“Hah? Gak usah ah ukhti ngerepotin aja.hehe” Ucapnya sungkan.
“ih, beneran. Aku kan udah nazar jadi harus ditepati.” Ucapku tersenyum.
“Hmm, ya udah deh. Besok sore aja. Gimana?” ucapnya.
“Oke.” Jawabku tersenyum.
“eh, tapi emang kemaren itu bener aku yang ngembaliin. Bukan temen aku gitu? Atau siapa orang lain?” tanyaku lagi penasaran.
“bukan. Beneran ukhti, bajuya persis kayak yang sekarang ukhti pakai.” Jelas Nayla lagi.
“Oh, sama kayak gini? Hmm, ya udah deh. Makasih ya bukunya. Maaf lama, hehe…”
“Iya sama. Oke deh, ukhti.” Ucapnya lagi.

Seselesainya aku berbincang- bincang dengan Nayla. Aku hanya termangu tak percaya. Perasaan yang tadinya panik, tak enak, dan sedikit kesal hilang begitu saja. Semua itu berubah menjadi sebuah kebingungan, keanehan, dan rasa penasaran sekaligus senang karena disatu sisi buku itu tidak jadi hilang. OMG! Siapa lagi ini? Siapa yang mengembalikan buku biologi Nayla???? Aku terus berjalan menelusuri lorong kamar dengan lunglai.

Comments

Popular posts from this blog

PERJALANAN INI

Perjalanan ini..             Perjalanan ini sampai kapan? Sampai kapan? Aku lelah terus berjalan Aku tak kuat lagi tuk terus berjalan yang tak pernah ku tahu ujungnya Perjalanan ini..             Bolehkah aku menyudahinya? Aku sungguh ingin namun ternyata sulit Sulit sekali..                                Sangat..                                                   Sampai dada ini sesak created by: vitaloka

TRAVEL TO DUFAN ANCOL

Hi Everyone! Bertemu lagi di cerita perjalananku yang keempat Kali ini aku ingin berbagi cerita dan pengalamanku bersama ibu dan adik-adikku  mengenai liburan ke Dufan Ancol Happy Reading ^_^ Pada waktu libur Lebaran Idul fitri 2 tahun yang lalu aku dan keluarga pergi berlibur ke Dufan Ancol. Dufan merupakan Wahana permainan yang menguji adrenalin dengan banyak pilihan permainannya yang ekstrim. Dufan ini tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan dalam negeri saja dari luar negeri pun banyak. Dan kalian perlu tahu sepengetahuan saya Dufan Ancol adalah Wahana permainan yang terbesar di Asia Tenggara. Tentu kita sebagai orang Indonesia patut berbangga hati. Baik, lanjut lagi ceritaku selanjutnya pada waktu itu kami berangkat sekitar pukul 10.00 wib menggunakan transportasi Kereta Commuter Line Bojong Gede-Jakarta(Kota). Ya, seharusnya kami berangkat lebih pagi lagi agar lebih lama dan puas bermain disana. Namun karena tidak ada persiapan sebelumnya jadilah kami berangkat agak ...

Naskah Drama

Permainan Cinta Randy                         : Surprise!!!!!!! Happy 4 th Anniversarry kita, sayang! (membuka penutup mata pada kepala Mia) Mia                              : Ya Ampun, Yang. Ini semuanya kamu yang nyiapin? (terkejut senang) Di sebuah taman kecil. Terdapat pepohonan yang dibaluti lampu- lampu kecil bercahaya indah di malam hari. Di tengah- tengahnya terdapat meja bundar kecil dengan dua buah kursi berwarna putih. Di atas meja sudah tersedia makanan- makanan lezat beserta buah dan jus segar. Di rerumputan terdapat tulisan indah “FOREVER LOVE YOU” berwarna merah muda. Randy            : Iya, dong. Sama bantuan temen aku sih. Kamu suka ga? (sambil mempersila...